Selamat datang di Klinik Patah Hati Remaja Islami! Di sini kami memberikan layanan bagi anda khususnya para remaja yang tengah dihadapkan dengan berbagai problematika cinta. Bagi semua hati yang tengah berbunga atau layu karena cinta, Klinik Patah Hati insya Allah akan siap membantu. Kami hanya sekedar membantu dan memberi saran. Namun ingat, segalanya adalah kehendak Allah 'Azza Wa Jalla, dan kewajiban kita adalah berikhtiar semaksimal mungkin!

Senin, 12 Januari 2009

Di Balik Lantunan ar-Rahman

Masa-masa di SMA saat ini terasa sangat berarti bagiku. Terlebih karena saat ini adalah terakhir kalinya aku menjejakan kaki di sekolah ini, namun bukan itu saja yang membuat saat-saat ini menjadi momen yang tak pernah kulupakan, tapi juga karena aku sedang jatuh cinta pada sesosok gadis muslimah yang kucintai sejak kelas dua. Dia adalah siswa yang sering membaca sari tilawah al-Qur’an, dan aku dikenal sebagai pembaca al-Qur’an terbaik di sekolah. Dia selalu mendampingiku apabila aku tampil di acara-acara sekolah.

Seumur hidupku aku hanya pernah jatuh cinta dua kali. Pertama saat aku masih SMP, dan kedua, yaitu saat ini. Sebagai seorang muslim, tentu aku harus menjaga hijab antara aku dan dia. Aku pun adalah tipe orang yang tidak suka pacaran, dan aku pun belum pernah pacaran. Aku hanya berinteraksi dengannya sebatas hubungan pertemanan. Walaupun perasaan ini aku simpan rapat-rapat dalam hatiku namun sepertinya dia tahu apa yang kusembunyikan.

Dari jauh-jauh hari, aku sudah merencanakan masa depanku. Usai aku lulus, aku akan melanjutkan kuliah ke kedokteran di Jakarta. Dan hal itu sudah aku wujudkan saat ini. Rencananya, setelah aku menyelesaikan S1, aku akan melanjutkan program S2 di Jerman. Setelah selesai, aku akan pulang ke Indonesia dan melamar gadis yang kudamba.

Sekarang adalah saat yang mengharukan dalam hidupku. Aku harus berpisah dengannya, walaupun aku tak mau, tapi itu harus. Karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku mendekatinya.

”Nurul, mungkin ini saat terakhir kalinya saya berbicara dengan kamu di sini. Andaikan kita takkan pernah bertemu lagi, maukah kamu untuk selalu mengingat saya sebagai sahabatmu?” ucapku padanya.

”Tentu saja, Yusuf al-Qais seorang sahabatku di SMA pasti akan saya ingat.” jawabnya.

”Tapi jangan lupa untuk mengingat Allah, ukhti.”

Bibirnya pun mengembang, hingga wajahnya yang teduh terlihat sangat memesona. Ya Allah, memandangnya membuatku semakin sedih, kuatkanlah aku ya Allah! Aku pun berusaha untuk tersenyum padanya.

”Qais.. tapi saya berharap kita akan bertemu kembali suatu saat kelak.”

”Amiin. Saya juga berharap demikian.”

”Akhi, saya pergi duluan. Assalaamu’alaikum.”

”Wa’alaikumussalaam.”

Jejak langkahnya terus kuperhatikan hingga menghilang di belokan jalan. Tak terasa mataku berkaca-kaca melihatnya.

***

Musim dingin baru berakhir di sini. Sinar matahari mulai menerobos jendela kamarku. Sisa-sisa udara musim dingin pun mendorong diriku untuk membuat secangkir coklat panas untuk menghangatkan tubuhku. Mungkin nanti siang aku tidak akan menelpon restoran untuk memesan makanan seperti saat musim dingin bulan lalu. Dinginnya udara di Heidelberg, Jerman membuatku malas untuk keluar dari rumah. Makan pun aku hanya memesan lewat telepon. Namun jika udara tidak terlalu dingin dan langit cerah seperti ini, aku makan di Sacramento Restaurant di Mönchhofstraβe dekat perempatan Mönchhofstraβe-Lutherstraβe. Karena jarak dari rumah sewaanku di Werderstraβe dengan Mönchhofstraβe lumayan dekat, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dan kebetulan aku punya uang lebih, karena makanan di Sacramento harganya lumayan mahal untuk mahasiswa Indonesia sepertiku.

Tiga bulan lagi aku di wisuda. Program S2-ku di Ruprecht Karl Heidelberg University selesai sudah, tinggal pulang ke Indonesia dan cepat menikah. Aku teringat dengan Nurul. Dia selalu bertukar surat denganku setiap bulan. Namun dua bulan terakhir ini surat-suratku belum dibalas olehnya. Dari surat balasan yang ia tulis dulu, dia telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Psikologi sejak aku pindah ke Heidelberg. Dan sekarang dia sudah bekerja di sebuah klinik di Bandung.

Malam telah tiba. Jam menunjukkan pukul 7.30 PM. Aku pun keluar rumah melewati Werderstraβe, Ladenburger Str, Lutherstraβe, Brückenkopfstraβe, untuk berjalan-jalan ke Theodor Heuss Bridge di sungai Neckar. Hari sabtu seperti ini biasanya di jalanan luar ramai oleh orang-orang. Di Theodor Heuss Bridge biasanya banyak pasangan-pasangan muda yang berjalan-jalan di sana. Siang ataupun malam, pemandangannya sungguh memukau siapa saja yang melihatnya. Jika siang hari, kita bisa melihat bukit yang hijau di utara, atau melihat puluhan bebek yang berenang-renang di sungai.

Aku pun berdiri di sisi jembatan, memandangi riak air yang berkilau indah terkena terpaan sinar lampu-lampu kota. Kapal-kapal boat sesekali melintas di bawah jembatan dari arah Schurmanstraβe-Neckarstaden, tempat puluhan boat berjejer bersiap untuk mengangkut penumpangnya. Oh, andaikan indahnya panorama ini dapat kunikmati bersama Nurul, mungkin akan terasa lebih indah. Andai saja Nurul ada di sini, akan kuajak ke Altstadt Old Town Red, atau ke Hauptstraβe. Semakin dekat kepulanganku ke Indonesia, semakin kuat pula kerinduanku untuk berjumpa dengan Nurul.

Jam 10.00 PM, aku pulang setelah selesai minum kopi di Cafe Moro di Brückenkopfstraβe. Aku sempat berpikir untuk mengajak Nurul untuk menikah denganku. Secara umum aku sudah siap menikah. Umurku sudah cukup, pekerjaan, aku akan praktek di tempat kerja milik ayahku, pendidikan sudah tinggi, apalagi yang belum? Bukankah menikah itu adalah menyempurnakan separuh agama? Bukankah menikah itu dapat menghindarkan diri dari zina? Bukankah menikah itu adalah sunnah Rasul? Dan bukankah orang yang tidak menyukai sunnah Rasul, maka ia tidak termasuk golongan umatnya? Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengatakannya pada Nurul.

Kertas surat dan pena kusiapkan di atas meja. Aku pun mulai menulis.


Heidelberg, 16 April 2008

Untuk sahabatku,


Nurul Zulaikha az-Zahra

Assalaamu’alaikum W. W.

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Ukhti bagaimana kabarnya di sana? Kok surat-surat yang sebelumnya belum pernah dibales sih? Mudah-mudahan ukht baik-baik saja ya, doanya terus kok. Gimana kabar pekerjaannya? Masih di Bandung kan? Insya Allah, jika kita mempunyai tekad dan ikhtiar yang kuat, Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita!

Ukhti, umur kita sudah cukup, serta hidup kita sudah mapan. Tujuan hidup kita adalah Allah, dan kita harus melakukan sesuatu untuk menuju tujuan itu, yaitu ibadah. Ibadah yang murni ikhlas hanya karena cinta pada-Nya, sesuai dengan yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw.

Ukhti, maafkan aku jika aku lancang berbicara seperti ini. Namun.. sungguh, sejak aku mengenal dirimu, aku terpesona oleh iman & taqwa serta amal baik yang tak pernah merendah, kejernihan wajah, senyuman yang indah, kesederhanaan lahiriah engkau ya Nurul Zulaikha..

Nurul, betapa diriku selalu merindukanmu di sini, sejak kita berpisah, di manapun aku berada di bumi Allah. Nurul, andaikan engkau percaya, aku selalu memimpikanmu yang menghiasi lelap tidurku. Tinta-tinta pena ini pun kububuhkan untuk menggambarkan perasaan hatiku yang tak pernah bisa tergambar...


Aku rindu..

Aku tunggu dirimu..

Aku rindu menanti

tentang wanita yang kan selalu ada di sampingku

yang kan kugenggam erat tangannya

yang kan kupandang wajahnya dengan penuh cinta

yang kan kupeluk tubuhnya dan kukecup keningnya

yang kan kujaga hingga aku tiada

yang kan kujadikan Cleopatraku untuk selamanya

yang kan kujadikan halal untukku

lewat satu ikatan dan janji suci

yang takkan pernah kuingkari dan khianati

Aku rindu..

Aku tunggu dirimu..

untuk jadi itu...

Nurul, bukankah kita ingin termasuk golongan umat Rasulullah? Bukankah jika demikian kita harus mengamalkan sunnah-sunnahnya? Bukankah jika kita mengamalkannya adalah ibadah? Bukankah menikah adalah sunnah Rasulullah yang juga merupakan ibadah? Nurul Zulaikha az-Zahra, maukah engkau menikah denganku? Nurul, aku mencintaimu, dan aku ingin cintaku ini menjadi amal untuk mendekatkan diriku pada Allah Swt.

Nurul, maafkan aku jika aku lancang berkata seperti ini. Namun engkau harus mengetahui bagaimana perasaanku terhadapmu, karena aku tak bisa menyimpan rapat-rapat cinta ini. Seperti Ibnu Hazm al-Andalusiy berkata: ”Gelora api cinta yang bersemayam dalam jiwa seseorang bila terhalang jarak dan waktu atau terpendam tanpa terungkap, pasti cinta itu hanya akan menjadikan orang tersebut diliputi penderitaan hingga tubuhnya kurus kering.”

Nurul, empat bulan lagi aku akan pulang ke Indonesia. Aku harap engkau membalas suratku ini. Apapun jawabannya, Insya Allah akan kuterima dengan ikhlas. Apabila jawabannya ya, saat aku pulang, aku akan menikahimu.

Nurul, aku tunggu jawabanmu..

Wassalaamu’alaikum W. W


Dari sahabatmu,

al-Qais



Kulipat kertas itu dan kemudian kumasukkan ke dalam amplop yang baru kubeli kemarin di La Flamm Market. Surat itu kuselipkan dibawah bantal, besok akan kukirimkan ke Indonesia lewat pos. Setelah shalat malam, aku pun tertidur. Tak terasa mataku basah, karena kerinduan yang tak tertahankan.

***

Bandara Halim Perdanakusuma mulai mendekat. Deru mesin pesawat mulai melemah. Pesawat pun berhenti, dan penumpang pun mulai membawa barang bawaannya dan keluar dari pesawat, begitu pun juga denganku. Di lobby bandara, orang tuaku sudah menunggu kedatanganku. Mereka memelukku, melepaskan kerinduan selama empat tahun tidak bersua. Mereka pun mengajakku pulang dengan mobil ayahku.

”Suf, kok dari tadi kamu keliatannya murung terus. Kenapa? Nurul?” tanya ibuku membuyarkan lamunanku.

”Iya Ma.”

”Memangnya ada apa dengan Nurul? Kamu jadi kan nikah sama dia?” tanya ayahku sambil menyetir mobilnya.

”Nggak tahu Pa, Nurul belum bales suratnya.” jawabku sambil menerawang.

”Oh.. Sebaiknya kamu langsung saja ke rumah Nurul.” saran ayahku.

Sejak aku mengirimkan surat itu, Nurul belum membalasnya. Dan itu membuatku bingung. Apakah dia menolak cintaku? Ataukah dia membenciku? Ya Allah, semua ini membuatku bingung.

Sesampainya di rumahku, aku langsung menyimpan barang-barangku di kamar dan merebahkan tubuhku di tempat tidurku. Suasana kamarku tidak jauh beda dengan yang dulu, kitab-kitab dan buku-buku milikku tersimpan rapih di rak buku. Aku masih ingat dengan tafsir Jalalain yang tersimpan di antara jejeran kitab-kitab milikku. Itu adalah pemberian dari Nurul di saat aku ulang tahun. Oh Nurul, kemanakah dirimu?? Betapa diriku merindukanmu..

”Suf, ini ada surat dari Nurul. Kemarin tukang pos yang memberikannya ke sini.” ibuku tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarku.

Mendengar itu, hatiku pun berbunga-bunga. Aku pun segera bangkit dari tempat tidur dan meraih surat itu dari ibuku.

”Mama kok nggak bilang-bilang sih ada surat dari Nurul?” tanyaku sambil membuka amplop surat itu cepat-cepat.

Ibuku hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Aku pun membaca surat dari Nurul.



Bandung, 1 September 2008

Assalaamu’alaikum W. W

Akhi, maaf saya belum membalas surat-surat dari akhi, soalnya saya lagi sibuk. Oia akhi, lusa nanti tanggal 3 saya akan menikah dengan seorang dokter. Maaf ya, nggak pake kartu undangan. Acaranya ba’da maghrib di pesantren ayah. Akhi, hari Rabu lagi nggak sibuk kan? Bisa minta tolong nggak? Nanti pas hari H, tolong baca al-Qur’an surat ar-Rahman! Syukran ya akhi!

Wassalaamu’alaikum W.W

Nurul Zulaikha A



Tanganku gemetar saat membaca surat dari Nurul. Aku tak percaya semua ini, harapanku yang telah menunggu selama delapan tahun untuk dapat bersanding dengannya, kini kandas sudah diputuskan takdir. Aku jatuh tersungkur di atas lantai kamarku meratapi semua yang terjadi. Air mataku yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata kini jatuh seiring dengan kesedihanku. Aku menangis sepuas-puasnya sambil memutar memori saat-saat bersamanya.

Saat pertama kali bertemu di beranda masjid sekolah, dia tersenyum padaku. Walaupun saat itu aku belum menyukainya, namun aku sudah bisa merasakan auranya. Senyuman pertama itu takkan pernah kulupakan, senyuman pertama yang membuat hatiku bergetar jika bertemu dengannya.

Aku masih ingat ketika dia membantuku mencari kunci motorku. Di saat yang lain sudah menyerah untuk mencari, dia terus mencari hingga ditemukan. Sungguh, wanita itu sungguh penuh perhatian. Aku belum pernah melihat tipe orang seperti dia sebelumnya.

Ketika aku sakit keras dulu, dia adalah orang pertama yang menjengukku. Memberikan makanan dan air doa dari ayahnya untukku. Dialah yang setiap hari menyemangatiku hingga aku sembuh seperti sedia kala. Tak hanya baik padaku, tapi pada orang lain pun sama baiknya. Itulah kemurnian hati. Dan itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.

Lamunanku terus menggambarkan memori yang sedang diputar ulang, dari mulai bertemu hingga berpisah. Kata-katanya terngiang-ngiang di benakku.

”Yusuf al-Qais seorang sahabatku di SMA pasti akan saya ingat.”

”Qais.. tapi saya berharap kita akan bertemu kembali suatu saat kelak.”

”Akhi, saya pergi duluan. Assalaamu’alaikum.”

Hingga surat yang baru kubaca. Aaaah!!! Hatiku menjerit, mengapa seperti ini?! Mengapa seperti ini?! Aku mencintainya! Aku sungguh mencintainya! Hari ini pula aku seolah ditikam tombak-tombak berkarat. Hatiku hancur. Air mataku terus mengucur dengan deras seolah air sungai yang tengah meluap. Tak peduli air mataku habis, aku merapatkan pintu kamarku, dan menangis sepuas-puasnya.

***

Hari ini adalah hari yang terberat dalam hidupku. Aku akan menyaksikan seorang wanita yang kudamba bersanding dengan seorang laki-laki, dan itu bukan aku. Entah apa yang akan kulakukan kelak. Namun aku sudah berjanji pada Nurul, bahwa apapun jawaban yang diberikan Nurul akan kuterima dengan ikhlas.

Saat itu pula aku berusaha untuk menenangkan diri. Aku berusaha mengikhlaskan dirinya. Semua yang terjadi itu adalah kuasa Illahi. Bukankah Allah telah berfirman ”..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Aku pun bertekad untuk memberikan penampilan yang terbaik khusus untuknya. Di sana aku akan berusaha tersenyum bahagia, dan memberi selamat pada kedua mempelai. Aku pun memilih pakaian yang terbaik yang akan kupakai. Sebelum membaca al-Qur’an aku melakukan latihan terlebih dahulu. Setelah semua persiapan selesai, aku pun pergi ke pesantren ayah Nurul bersama orang tuaku. Mereka ingin melihat pernikahannya, karena Nurul bagi mereka adalah orang yang dekat dengan keluarga kami. Sebelum kami pergi, aku mampir ke toko buku. Aku membeli mushaf al-Qur’an yang terbaik untuk kado pernikahan Nurul.

Mobil ayahku sudah sampai di depan pesantren ayah Nurul. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku menarik nafas panjang, bismillah.. Aku pun turun dari mobil bersama orang tuaku. Di depan pintu masuk, ayah Nurul menyambut kedatangan kami. Ia menyalamiku dan mencium pipi dan ubun-ubunku. ”Bagaimana nak Yusuf, sudah siap?” tanya ayah Nurul.

”Insya Allah, Kiai.” jawabku sambil tersenyum.

”Ayo mari masuk ke dalam. Bagaimana bacaan qabulnya sudah latihan di rumah? Nanti pakai bahasa arab lho, awas jangan lupa, jangan malu-maluin. Masak sudah sekolah di Jerman masih suka lupa sih. Ndak mungkin tho?” ucap ayah Nurul sambil menuntunku ke dalam.

”Maksud Kiai bagaimana?” tanyaku heran.

”Lho, kamu ini bagaimana tho? Masak calon mempelai belum siap apa-apa?” ayah Nurul pun sama herannya denganku.

”Maksud Kiai saya yang akan menikahi Nurul?”

”Masya Allah.. Jadi kamu belum tahu kamu ke sini itu untuk apa?”

”Saya diberi tahu Nurul kalau dia akan menikah dengan seorang dokter. Dan saya diminta untuk membaca surat ar-Rahman. Begitu Kiai yang saya tahu.”

”Yusuf, Yusuf... Kamu ini memang lugu. Yang dimaksud Nurul dokter itu ya kamu. Memangnya kamu apa? Arsitek? Seniman? Dokter tho? Terus baca surat ar-Rahman itu maksudnya Nurul ingin syarat pernikahannya adalah dengan membaca surat ar-Rahman terlebih dahulu. Begitu nak..” jelas ayah Nurul. Penjelasannya membuatku tersentak kaget.

”Apa benar Kiai? Kiai tidak mempermainkan saya bukan?” tanyaku pada ayah Nurul untuk meyakinkan diriku.

”Tentu saja tidak. Saya serius nak Yusuf.” jawabnya meyakinkan.

Seketika itu, aku tak bisa berpikir tentang apa-apa. Perasaanku saat ini sangat sulit untuk dijelaskan. Yang pasti saat itu aku mendapatkan kegembiraan yang tak pernah kusangka sebelumnya. Lantai keramik pesantren menjadi tempat untukku untuk sujud syukur disertai air mata kebahagiaan setelah mendengar ayah Nurul menjelaskan demikian.

”Selamat ya nak. Mama cuma mau berikan cincin ini untuk mahar pernikahan kamu. Oh iya, sekalian mushaf yang tadi kamu beli juga dijadikan mahar.” ucap ibuku dari belakang.

Ibuku menepuk pundakku sambil menyerahkan cincin kawin miliknya padaku. Ia pun lalu memelukku dengan erat. ”Syukran ya Mama” ucapku sambil terisak karena haru.

”Iya, sudah-sudah hapus air matamu. Sebentar lagi acaranya dimulai.”

Kira-kira seratus orang santri dan jamaah lainnya berkumpul di ruangan. Acara sudah dimulai. Ustadz Fahmi memberikan taushiyahnya. Usai itu, maka saatnya untuk akad. Sebelum mengucapkan akad, aku membaca surat ar-Rahman terlebih dahulu. Sungguh, ketika tilawah, belum pernah aku mendapatkan penghayatan yang seindah ini. Jiwaku terasa damai dan tentram, seolah disinari oleh cahaya surga.

Usai pembacaan al-Qur’an, saatnya mengucapkan akad. Ayah Nurul menjabat tangan kananku dengan erat, lalu membacakan ijab. Setelah itu giliranku menjawab, ”Qabiltu nikahaha wa tazwijaha, Nurul Zulaikha az-Zahra binti Zakariya linafsi bi mahril madzkur haalan!” aku mengucapkannya dengan fasih dan lancar.

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Barakallahu laka wa baraka ’alaika wa jama’a bainakuma fi khair.” Ustadz Fahmi membimbing para jamaah untuk mengucapkan doa yang diajarkan oleh Rasulullah tersebut.

Suasana ruangan pun bergema oleh doa-doa para jamaah. Tak lama kemudian sesosok wanita yang sudah tak asing lagi berjalan dengan anggun ke arahku. Wajahnya yang teduh memancarkan cahaya cinta, senyumannya yang indah mengibaratkan surga dunia. Dia berjalan mendekatiku, tangannya ia julurkan ke arahku. Aku memandang wajahnya dan mengembangkan bibirku untuk tersenyum. Aku raih tangannya yang lentik dengan perlahan. Dia berkata, ”al-Qais, engkau masih ingat puisi yang kau tulis di suratmu itu? Aku rindu.. Aku tunggu dirimu.. Dan kini engkau telah kembali. Engkau milikku dan aku milikmu..

Kucium keningnya dan kugenggam erat tangannya, yang kelak akan kutuntun untuk berjalan bersama mendekatkan diri pada Illahi.

”Fabi ayyi ’alaa i rabbikuma tukadzibaan!” Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Ditulis di Bandung, 16 Agustus 2009 Pukul 10.30 AM

Selesai Pukul 11.05 PM



Faisal Agung Waskito

Dilarang menyalin isi dari cerpen diatas tanpa seizin penulis dan pemilik blog

Ada kesalahan di dalam gadget ini