Selamat datang di Klinik Patah Hati Remaja Islami! Di sini kami memberikan layanan bagi anda khususnya para remaja yang tengah dihadapkan dengan berbagai problematika cinta. Bagi semua hati yang tengah berbunga atau layu karena cinta, Klinik Patah Hati insya Allah akan siap membantu. Kami hanya sekedar membantu dan memberi saran. Namun ingat, segalanya adalah kehendak Allah 'Azza Wa Jalla, dan kewajiban kita adalah berikhtiar semaksimal mungkin!

Senin, 15 November 2010

Bersabarlah Menanti Cinta!

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”. (QS. An-Nahl 92)


Di antara rumah-rumah penduduk Makkah, terdapat sebuah rumah di kawasan Bani Makhzum. Salah seorang penghuninya adalah seorang gadis. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Makkah. Gadis itu bernama Rithah Al-Hamqa.

Setelah usianya menginjak remaja, hatinya mulai terbuka untuk menjalani kehidupan seperti lazimnya para wanita, yaitu mempunyai suami dan anak-anak. Dia sering melamun dan menghayalkan siapa pendamping hidupnya. Hari demi hari tak ada satu pun laki-laki yang datang untuk menjadi calon suaminya. Rithah pun mulai khawatir, usianya kini sudah tua namun belum juga memiliki pasangan. Setiap hari ia termenung dan murung. Melihat Rithah seperti itu, ibunya pun pontang-panting mencarikannya laki-laki yang mau menjadi suami Rithah. Ayahnya, Umar pun sampai pergi ke dukun-dukun dan menghabiskan banyak hartanya hanya agar Rithah bertemu dengan jodohnya.

Namun ternyata usaha mereka gagal. Dukun-dukun yang memberikan janji ternyata hanya bohong belaka. Rithah pun yang melihat usaha orangtuanya gagal menjadi murung dan putus asa. Ia begitu khawatir, jodohnya belum juga datang, sementara umurnya sudah semakin tua.

Hingga suatu saat ibunya membawa pemuda tampan yang bersedia menjadi suami Rithah. Namun ayah Rithah meninggal terlebih dahulu sebelum Rithah menikah. Ayahnya mewariskan harta yang berlimpah ruah pada Rithah. Rithah yang sudah sangat ingin menikah pun menyetujui pemuda itu menjadi suaminya. Akhirnya hari yang dinanti-nantikan Rithah pun datang. Ia menikah dengan pemuda tampan yang ia yakini dia-lah jodoh yang selama ini dinanti-nantikannya.

Selang beberapa bulan kemudian, muncul keanehan dalam diri suami Rithah. Ternyata suami Rithah hanya menginginkan harta yang melimpah dari Rithah. Setelah suami Rithah mengeruk harta Rithah, ia pun pergi meninggalkan Rithah. Rithah yang pernikahannya baru seumur jagung, kini harus menghadapi kenyataan yang pahit. Pemuda yang dulu ia percaya sebagai pendamping hidupnya ternyata menjadi pengkhianat dalam kehidupannya, meninggalkan luka dan kepedihan bagi Rithah.

Setiap hari, Rithah selalu murung tanpa semangat. Gairah hidupnya sudah redup. Lama kelamaan pikirannya pun terganggu. Ia mengambil gulungan benang yang kusut, lalu dipintal. Setelah ia selesai memintalnya, ia kusutkan kembali lalu memintalnya kembali. Hal itu ia lakukan setiap hari hingga akhir hayatnya..


Sahabat, kisah diatas direkam oleh Allah melalui al-Qur'an. Kisah di atas memberikan pesan pada kita semua tentang makna bersabar. Jodoh, rezeki, dan kematian kita adalah rahasia Allah. Yang perlu kita lakukan adalah bersabar menunggu dan berikhtiar untuk mendapatkannya. Seperti halnya jodoh, setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mendapatkan jodohnya masing-masing. Kita banyak melihat fenomena seperti kisah di atas, ketidaksabaran, terlalu buru-buru mengambil keputusan, terlalu cepat melakukan sesuatu.

Sahabat, tidak selamanya lebih cepat lebih baik. Adakalanya kita harus melakukan sesuatu dengan seimbang dan tepat pada waktunya. Karena tidak mungkin kita mengambil buah yang masih mentah dari pohonnya. Masalah waktu dan dengan siapa, itu diatur semuanya oleh Allah. Tugas kita hanyalah berikhtiar dan bersabar. Jadi, kita renungkan kembali diri kita, jangan sampai diri kita selalu tegesa-gesa dengan ketentuan Allah, sebagaimana Rasulullah bersabda, "Tergesa-gesa adalah termasuk perbuatan setan." (HR. Tirmidzi). Jangan sampai diri kita dikuasai oleh nafsu dan keinginan semu. Pasrahkan semua perkara pada Allah dan jadikanlah sabar sebagai penolong kita. Yakinlah bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Wallahu a'lam bishawab.

Minggu, 05 September 2010

Konsultasi Cinta, Ketika konflik hadir di tengah cinta

Assalamu'alaikum. Akhir-akhir ini saya dan pasangan saya sering bertengkar. Kadang masalahnya sepele, tapi selalu menjadi masalah yang besar. Dia kadang berbicara kasar pada saya. Apakah itu tandanya dia sudah tidak mencintai saya lagi?

Tanggapan admin:
Wa'alaikumussalam. Di setiap hubungan pasti ada konflik yang muncul, karena kehidupan tidak selalu berjalan mendatar. Namun jadikanlah konflik tersebut sebagai pewarna di dalam hubungan anda. Biasanya penyebab pertengkaran seperti itu adalah karena kesalahpahaman antara dua pihak, yang sebenarnya bisa diselesaikan asalkan kedua belah pihak saling terbuka dan saling mengerti satu sama lain. Jangan pernah gengsi atau egois, karena itu akan menambah rumit permasalahan.

Satu lagi, jika ada sesuatu yang buruk pada diri pasangan anda, janganlah anda langsung berburuk sangka, karena bisa jadi pasangan anda sedang mengalami masalah lain atau bisa jadi pasangan anda mempunyai maksud baik tertentu. "Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.."(QS Al-Hujurat: 12)

Damai dan tenteramnya hidup tanpa prasangka telah diperlihatkan di semua sisi kehidupan Baginda Rasulullah saw. Kepada siapa pun. Walaupun terhadap orang yang teramat baru menyatakan diri sebagai seorang muslim.

Beliau saw pernah marah dengan seorang sahabat. Pasalnya, pada sebuah pertempuran, sahabat ini membunuh anggota pasukan kafir yang tiba-tiba mengucapkan dua kalimat syahadat. Sahabat ini berkilah, “Orang kafir itu hanya bersiasat agar tidak dibunuh.” Dengan tenang, Rasulullah saw meluruskan ucapan sahabat tersebut, sudahkah Anda bedah tubuh orang itu dan mendapatkan kenyataan bahwa hatinya memang dusta?

Lahirnya prasangka dalam hati seorang hamba Allah sebenarnya memperlihatkan kelemahan hamba itu sendiri. Karena racun prasangka bisa merusak nalar seseorang sehingga tidak mampu berpikir objektif, apa adanya. Hati dan pikirannya selalu dibayang-bayangi curiga.

Maka oleh karena itu dekatkan diri anda kepada Allah 'Azza Wa Jalla agar hati anda tidak dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang negatif. "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra'd: 28)

Wallahu a'lam bishawab

Senin, 28 Juni 2010

Konsultasi Cinta, Manajemen Hati

Ass.W.W Ustd, saya seorang laki-laki umur 18 tahun. Saya seorang aktivis dakwah di sebuah kampus. Sebelum saya masuk ke universitas dimana saya kuliah, saya pernah menyukai seorang akhwat semenjak dua tahun yang lalu. Saya rasa dialah pilihan yang tepat bagi saya. Masalahnya, perasaan yang saya miliki ini kian menggebu. Tapi bukankah cinta yang diridhai Allah itu lewat pernikahan? Sedangkan saya masih terlalu muda untuk menikah. Saya sebenarnya ingin memberikan tanda kepadanya bahwa saya kelak akan menikahinya, apakah itu tidak melanggar syariat Ustad? Saya khawatir saya akan terus memikirkannya, dan saya khawatir jika itu menjadi zina hati. Menurut Ustad bagaimana cara yang baik untuk mengatasi perasaan saya ini? Mohon jawabannya Ustad..

Wa'alaikumussalam. Saya belum Ustad, umur saya tidak beda jauh dengan anda. Walaupun demikian, saya akan menjawab masalah anda.
Benar, cinta yang diridhai Allah itu lewat pernikahan. Walaupun demikian, belum tentu cinta yang bukan lewat pernikahan tidak diridhai Allah. Analoginya, "Ruang tamu bersih", "Andi belajar di tempat bukan ruang tamu". Apakah kesimpulannya jadi:"Andi belajar di tempat kotor"?
Masalah cinta sebelum pernikahan boleh atau tidak, sudah dibahas oleh Ibnu Qoyyim. Hukumnya boleh, asalkan tidak melanggar syariat yang telah ditetapkan.

Memang memberikan statement untuk menikahinya tidak melanggar syariat. Tapi sebagian ulama berpendapat bahwa hal seperti termasuk perjanjian/ikatan pranikah, dan dapat digolongkan dengan khitbah atau melamar. Umur anda kan masih jauh dari pernikahan, jadi itu bukan suatu kebutuhan yang mendesak. Anda belum perlu membentuk ikatan tersebut, saya yakin anda mampu menjaga diri. Yang perlu anda lakukan sekarang adalah mendalami agama sebanyak mungkin, untuk persiapan ke depan.

Memikirkannya tidak termasuk zina hati, kecuali anda berangan-angan untuk berbuat zina dengannya, membayangkannya dengan taladzdzuz (berlezat-lezatan/menikmati) dengan birahi. Simak haditsnya:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah)
Ungkapan “Dan semuanya dibenarkan atau ditidakkan oleh alat kelamin”, yang merupakan pengertian zina yang sesungguhnya, itu menunjukkan penjelasan terhadap “sesuatu” pada ungkapan-ungkapan sebelumnya.
Zinanya mata adalah melihat [sesuatu], zinanya lisan adalah mengucapkan [sesuatu], zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [sesuatu], sedangkan alat kelamin membenarkan atau mendustakan itu [semua]. … (HR Bukhari & Muslim)
Jadi, “sesuatu” yang hendaknya kita hindari itu adalah yang mengarah pada hubungan kelamin. Inilah yang dimaksud dengan “sedangkan alat kelamin membenarkan atau mendustakan itu [semua]“.

Jika anda merasa perasaan anda menggebu dan tidak terkontrol, ikuti resep dari Ibnu Athaillah ini:
لاَيُخْرِجُ الشَّهْوَةَ مِنَ الْقَلْبِ اِلّاَجَوْفٌ مُزْعِجٌ اَوْشَوْقٌ مُقْلِقٌ
"Tidak ada yang bisa mengusir ajakan syahwat (yang menyesatkan) dari hati, kecuali rasa takut (kepada Allah) yang menggetarkan atau rasa rindu yang menggelisahkan."
Hati-hati jika anda merasa perasaan anda menggebu, Ibnu Athaillah juga mengatakan: "Tidaklah engkau mencintai sesuatu, melainkan engkau menjadi hambanya. Dan Allah tidak suka apabila engkau menjadi hamba selain pada-Nya." Jadi, berlaku seimbanglah dengan cinta yang anda miliki.

Produktifkan waktu yang anda miliki. Dengan hidup produktif, anda akan lebih terfokus dalam hidup. Jadikan cinta anda sebagai motivator hidup anda. Insya Allah, cinta di dalam hati anda akan lebih tertata. Wallahu a'lam.

Selasa, 13 April 2010

Dari Mana Datangnya Cinta?

Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati. Begitulah yang dinyatakan sebuah pantun yang tergolong lama itu. Memang biasanya seseorang menyukai sesuatu karena ia telah melihat dari segi pandangan dan keadaan. Seseorang menyukai uang karena ia melihat, bahwa uang mempunyai nilai yang berharga. Seseorang menyukai sebuah lukisan karena ia melihat, bahwa lukisan mempunyai nilai keindahan. Seseorang menyukai sebuah makanan karena ia melihat, bahwa makanan tersebut adalah makanan yang mempunyai rasa yang lezat.

Menurut Spranger, manusia dibagi dalam beberapa tipe, yaitu manusia teoritis, manusia ekonomis, manusia estetis, manusia sosial, manusia politik, dan manusia religius. (Lihat, Muchidin M. Dahlan, 2003: 214)

Manusia teoritis yaitu manusia yang berprinsip bahwa nilai tertinggi adalah pada kebenaran. Biasanya bersifat perfesionis, teratur, berorientasi pada detail, sistematis dan akurat, menyukai fakta dan logika. Biasanya orang berprinsip seperti ini adalah orang yang selalu mengutamakan logika. Ketika dia menyukai sesuatu, maka ia tidak tergesa-gesa. Ia harus berhati-hati menentukan pilihan, harus memikirkan baik-buruk benar-salahnya, mempertimbangkan probabilitas, serta berorientasi ke masa depan.

Manusia ekonomis yaitu manusia yang menganggap bahwa baik dan buruk diukur dari segi keuntungan. Biasanya orang sejenis ini cermat dalam memperhitungkan kemungkinan. Sehingga dalam mengambil langkah, ia akan memilih sesuatu yang menguntungkan untuknya. Dia menyukai sesuatu karena terdapat nilai yang dapat menambah keuntungan bagi dirinya.

Manusia estetis yaitu manusia yang menganggap bahwa keindahan adalah segalanya. Kemolekan tubuh dan paras yang indah menjadi faktor utama baginya untuk menyukai sesuatu. Cinta yang berwajah penuh kasih sayang, tapi tak lebih dari sekedar mengincar keindahan tubuh yang kian lama kian keriput, hingga nanti itulah yang pertama digigiti oleh serangga-serangga di dalam tanah. Setelah keindahannya memudar, maka tak ada lagi cinta baginya.

Manusia politik yaitu manusia yang menganggap bahwa nilai tertinggi adalah pada kekuasaan. Biasanya bersifat giat, cepat dan tegas, menyukai kekuasaan dan martabat, menikmati ketenaran dan prestise, serta berkemauan keras, dan prinsip yang kuat. Alasan mengapa dia menyukai sesuatu adalah untuk memperluas kekuasaan dan mempertinggi kedudukan.

Manusia religius yaitu manusia yang menganggap bahwa nilai tertinggi adalah ketika dekat dengan Tuhan. Dia mencintai sesuatu karena semata-mata untuk menambah rasa cintanya terhadap Tuhannya, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW : "Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan mencegah karena Allah, maka ia sudah menyempurnakan iman." (Dishahihkan oleh al-Albani). Manusia seharusnya bercermin pada ini. Mencintalah karena Allah dan bukan karena materi yang tak abadi.

Rasulullah SAW bersabda: "Perempuan itu dinikahi lantaran empat hal: karena hartanya, karena kemuliaan nasabnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka beruntunglah kamu yang memilih perempuan yang memiliki (agama yang baik)..." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selain faktor-faktor yang disebutkan tadi, ada satu faktor utama yang menyebabkan rasa cinta datang kepada kita, yaitu Cinta Sang Khaliq pada kita dengan Memberi Cinta pada masing-masing jiwa. Dia-lah yang menciptakan cinta, Dia-lah yang memiliki cinta, Dia-lah yang memberi cinta, dan Dia-lah yang sepatutnya kita cinta.

Cinta itu bagaikan alat indera yang letaknya tidak dapat dicari oleh mata, tidak dapat dipegang oleh indera peraba, tak dapat didengar oleh pendengaran, tidak dapat dicium oleh hidung, tidak dapat dirasakan oleh lidah. Cinta juga tidak mempunyai syaraf, tidak seperti indera lainnya. Cinta tidak dapat dikendalikan, dihadirkan, dan juga dimusnahkan oleh pikiran. Cinta adalah sebuah naluri alami yang dianugerahkan oleh Tuhan. Kita tidak dapat mengatur kapan kita jatuh cinta, kita hanya bisa mengiyakan atau membantah apa yang kita rasakan (M. Shodiq Mustika, Istikharah Cinta: 30). Jadi, syukurilah jika cinta hadir dalam jiwamu!!

Komentar